Menepati Janji Pernikahan
Bagi sebagian besar manusia, menikah, adalah salah satu agenda penting dalam hidup.
Bagi saya, pilihan untuk menikah, adalah sebuah pilihan untuk berjanji menghabiskan sisa hidup dengan seseorang ( satu orang) yang notabene adalah “orang lain”.
Pilihan ini juga berarti saling mengkompromikan berbagai sifat dan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat sejak umur nol.
Jelas itu semua bukan perkara mudah.
Saya teringat sebait janji yang saya ucapkan sekitar sebulan yang lalu:
“..Di hadapan Tuhan, Imam, para saksi dan hadirin, saya, Andreas Indra Soeharto, menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Agnes Pranatalia Erlin Puspaningrum, yang saya cintai dan mencintai saya, mulai sekarang akan menjadi isteri saya, satu-satunya.
Saya berjanji akan selalu setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit.
Saya akan selalu mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Saya juga berjanji, akan menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak yang diberikan dan dipercayakan Tuhan kepada kami. Demikian janji saya, di hadapan Tuhan dan Injil suci ini…”
Memang, Pernikahan adalah janji, bukan cuma kepada pasangan, tapi juga pada Tuhan.
Menjalani kehidupan pernikahan dengan setia, pasti juga bukan hal yang mudah.
Tetapi saya tidak boleh khawatir.
Saya harus belajar untuk tidak mengingkari janji pernikahan.
Seperti Tuhan yang tidak pernah ingkar janji.
8 comments so far
Leave a reply
Mas Andreas, saya belum sempat mengirimkan kado pernikahan? sampeyan mau dibelikan apa? juicer udah punya belum?
Merpati juga tidak pernah ingkar janji mas…
Bung Det, kebetulan saya sudah punya juicer..
Yang saya belum punya, antara lain :
meja TV, meja makan, atap carport, kulkas, microwave, tabung gas, bed, kasur (queen).
begitu kira-kira..
kok mahal semua mas?? budget saya cuma sekitar 200 rb…
Kali ini saya no comment Mas..
Wah senengnya dah bisa main ‘rumah-rumahan’, tinggal nunggu si kecil dong..
Salam dari Melbourne
Halo Om Rud!
Iya ni, masih mengusahakan si kecil..
)
Pengene sih cpet, biar bisa jadi temennya Marsya..
Ojo lali oleh-oleh dari Melbourne ya!
saya setuju dengan artikel singkat ini. harus ada komitmen diantara kedua belah pihak. Mau mengalah dan mau berkorban.