Tuhan Tidak Menangis

Prolog:

Tulisan ini saya tulis sekitar 4 atau 5 tahun lalu, terpicu oleh keputusan seorang sahabat, yang memutuskan untuk berganti agama yang dianutnya sejak kecil, karena “alasan administratif”: ingin menikah dengan orang yang sangat dia cintai…

 ———

 Saya termasuk orang yang percaya bahwa agama adalah salah satu cara (to some extent: alat pemaksa) buat manusia, untuk dapat mempunyai hubungan baik dengan Tuhan n sesamanya.

 

Jadi, agama BUKANLAH esensi dari kehidupan religius. Esensi dari kehidupan religius, menurut saya adalah, keadaan ketika kita bisa mempunya relasi yang sungguh dekat dengan Tuhan dan juga dengan sesama manusia.

 

Intinya, segala macam ritual apapun yang ditawarkan oleh agama apapun, tidak lebih sebagai cara untuk mempermudah manusia mencapai substansi religiusnya. No more and no less.

 

Berangkat dari pemikiran itu, saya, (walaupun tidak mudah..) selalu berusaha men-tawarkan hati bila ada orang yang pindah agama.. Bagi saya, setiap orang berhak (dan wajib malah..) memilih cara yang paling baik dan cocok untuk ”memaksa” dirinya, sehingga manusia punya relasi yang mesra dengan Tuhannya dan, sama pentingnya, dengan manusia.

 

Jadi, ketika seseorang menjalani agamanya dengan memegang teguh konsep seperti diatas, bukankah tidak ada yang perlu dikawatirkan??

 

Ganjil

 

Menjadi amat ganjil-lah kiranya kalo melihat ada orang-orang dari satu agama tertentu, mempromosikan ”nilai plus” dari agamanya SAMBIL menunjuk-nunjuk keburukan atau (mungkin, menurut dia) kepalsuan agama lain.

 

Untuk mempromosikan agama, menurut saya adalah sangat sah. Seperti layaknya bila kita suatu saat mengunjungi warung makan yang enak, murah dan bergizi.  Adalah wajar kalo kita kemudian menceritakan kepada orang lain mengenai warung makan itu..

 

Tapi…

Ketika seseorang atau sekelompok mulai mempromosikan ajaran agamanya sambil menunjuk bahkan menginventarisir keburukan ajaran lain, bisa jadi ada yang salah disana. Bisa jadi, kita atau mereka yang melakukan ini, belum (atau tidak pernah) mendapat substansi dari ber-agama…

 

Saya punya keyakinan, Tuhan, dengan cara apapun dia disebut oleh manusia, Tidak akan pernah menangis, bila Dia melihat seseorang CUMA berpindah agama.

 

Bahkan Tuhan malah akan tersenyum lega, kalo ternyata perpindahan agama itu telah membuat seseorang menjadi semakin dekat dengan Dia dan juga semakin memperbaiki relasi orang tersebut dengan sesamanya.

 

Tuhan justru akan menangis, bahkan menitikkan air mata darah, ketika seseorang, APAPUN agamanya, justru meninggalkan Dia, dan/atau  merusak hubungannya dengan manusia lain.. (lebih menyedihkan lagi, kedua hal ini terjadi dengan seringkali mengatasnamakan ajaran agama..)

 

Anyway, apapun pilihan agama kamu, pastikan kamu mendapatkan esensi beragama: mempunyai hubungan yang sungguh mesra dengan Tuhan dan Sesamamu..

 

Selamat beragama.

 

 

ps. kalo sudah begitu, kenapa juga harus pindah agama? Apalagi kalo memang motif pindah agamanya adalah semata “alasan administratif” …

1 comment so far

  1. kembangbakung on

    yes, setuju sama tulisan ini, ndra😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: