Stigma & Kapasitas

Saya pernah mendengar, bahwa sepanjang hidupnya, Albert Einstein hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya.
Entah berita itu benar atau tidak, yang jelas saya yakin sepenuhnya bahwa kapasitas otak yang saya gunakan pun pastilah lebih sedikit bila dibandingkan dengan Albert Einstein.
Memang, sadar atau tidak, kita (atau setidaknya saya), acapkali belum menggunakan kemampuan (baik kemampuan otak, tenaga dan hati) kita dengan optimal.
Sebaliknya, dalam banyak hal, kita malah sering terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita merasa sudah mengeksplorasi kemampuan yang kita miliki.

Kadang kita terlalu cepat melekatkan berbagai stigma kepada diri kita sendiri dan merasa cukup puas (atau pasrah?)dengan stigma-stigma itu.

Contohnya dalam pernyataan-pernyataan ini:

Saya orangnya pemalu, saya nggak berani tampil di muka umum, saya nggak bisa berenang, suara saya fals, saya nggak bisa main piano, Saya buta baca not balok, saya nggak bisa nyetir mobil, saya nggak pede ngomong pake bahasa inggris, saya orangnya keras, saya gendut, dan berbagai stigma lainnya.

Mungkin stigma itu memang benar adanya. Mungkin kita memang sedang mencoba jujur dengan keadaan kita yang sesungguhnya, setidaknya untuk saat ini.

Tapi, menurut saya, stigma yang melekat pada diri kita (baik yang sungguh-sungguh kita punyai, dilekatkan oleh orang lain, atau bahkan semata-mata karena ke-rendah-diri-an kita), tidak boleh menghalangi kita untuk berusaha memperbaiki diri dan menghilangkan stigma-stigma itu.

Menurut saya, mestinya kita yakin bahwa kapasitas diri kita belumlah habis digali. Bahwa kemampuan atau ketidakmampuan yang kita miliki saat ini, mungkin barulah sepersepuluh dari seluruh potensi yang kita miliki.

Intinya, sepanjang manusia masih hidup, semuanya masihlah mungkin untuk diubah, kalo kita mau mengubahnya.

Yang awalnya merasa pemalu, bisa saja berubah menjadi public speaker andal. Yang selama 25 tahun lebih sama sekali nggak bisa berenang, bisa berubah menjadi seseorang yang hobinya berenang. Yang sama sekali nggak bisa main piano, bisa berubah menjadi pianis andal. Yang awalnya merasa diri keras kepala, bisa berubah menjadi sosok sabar dan penuh pengertian

Mari membuka pikiran, membuka hati, membulatkan tekad dan berusaha dengan serius.

Push your limit.

Hasilnya kadang membuat diri kita terkejut..

Jadi, Jangan terburu-buru melekatkan stigma. Semuanya masih mungkin berubah, selama hayat masih dikandung badan.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: