Nonton Wayang di Negeri Orang

Sabtu pekan lalu, saya melewati akhir pekan dengan cara yang tidak biasa.

Di akhir pekan itu,  Royal Northern College Of Music (RNCM) Manchester – sebuah college musik terkemuka di Inggris Raya, menggelar sebuah acara bertajuk: RNCM Gamelan Weekend. Acara ini dimaksudkan untuk merayakan datangnya seperangkat gamelan lengkap, milik RNCM.

Hari Sabtu siang, saya menonton sekelompok anak berusia sekitar 10 sampai dengan 14 tahun, memainkan seperangkat lengkap gamelan jawa. Ada 25 anak plus 3 orang dewasa. Semuanya bule alias warga kulit putih. 14 anak memainkan gamelan, 11 anak kebagian tugas menyanyi.

Gamelan Weekend di RNCM

Tembang jawa “Esuk-esuk”, “Pocung” dan “Gundul-gundul pacul” berhasil dibawakan dengan lancar, nyaris tanpa cela. Pengucapan kata-kata jawa yang sedikit meleset, tentu saja sangat bisa dimaklumi. Tak Cuma itu, selain membawakan komposisi-komposisi “asli” jawa, mereka juga menyajikan komposisi yang mereka ciptakan sendiri! Luar biasa.

Hari Sabtu malamnya,  di tempat yang sama, saya menonton pertunjukan wayang kulit bertajuk “Kresna Denawa”. Dalangnya lagi-lagi orang bule. 2 orang sindennya juga orang bule. Nayaga-nya, hampir semua juga bule, kecuali seorang Indonesia, Mas Aris Daryono namanya.

Sabtu malam itu, Manchester diguyur hujan, tapi tetap saja, area RNCM Café bar, tempat dilangsungkannya pertunjukan wayang kulit ini, penuh sesak dengan pengunjung. Walaupun yang dipertunjukan adalah seni asal indonesia, saya Cuma melihat ada 4 orang indonesia disana – termasuk saya.

RNCM gamelan weekend ini terdiri atas 12 sesi. Selain sesi anak-anak bermain gamelan dan sesi wayangan yang sudah saya ceritakan tadi, ada juga beberapa sesi workshop dan juga sesi kolaborasi antara gamelan dengan alat-alat musik lain, seperti, violin, piano, drum dan banyak lagi.

Walaupun saya bukan penggemar berat gamelan dan wayang, Senang juga rasanya, melihat gamelan dan wayang dimainkan dan diapresiasi oleh begitu banyak orang, di sebuah tempat yang berjarak hampir 13 ribu kilometer dari tempat asalnya.

Yang perlu dicatat, jangan sampai, 20 tahun dari hari ini, anak saya harus jauh-jauh pergi ke Inggris, kalau ingin belajar nyinden atau nggamel …😦

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: