Transaksi Cinta

Di sebuah minggu malam, saya janjian dengan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol di sebuah kedai kopi di dekat tempat tinggal kami.

Usai memesan minum dan croissant sosis, kami pun mulai bercerita-cerita, update ini itu.

Lazimnya anak jaman sekarang, kami ngobrol sambil sesekali pause karena sibuk dengan blackberry kami masing-masing. Membalas BBM, ngomentarin orang di grup, ngecek timeline twitter, nge-ritwit, browsing, atau apapun.

Tiba-tiba teman saya mendadak murung. Ketika ditanya kenapa murung, dia bilang, kalo dia sebel, karena weekend ini dia harus melewatkan ajakan seorang teman kuliah (yang menurutnya spesial) untuk menghabiskan weekend bersama-sama dengan teman-teman kuliahnya yang lain. kita sebut saja teman kuliah yang spesial ini sebagai “incaran”..πŸ˜€

Yang membuat teman saya lebih sebel, ternyata siΒ  incaran ini tidak terpengaruh dengan ketidak bisaan teman saya. Dia tetap saja beracara dengan teman-temannya, meski tanpa kehadiran si teman saya itu.Β 

Teman saya itu sebel, karena di saat dia begitu sedih tak bisa ikut berkumpul, ternyata si incaran tidak sedih. Alih-alih sedih, si incaran tetap saja bersenang-senang, dengan teman-temannya yang lain.

Usai mengobrol sampai kedai kopi itu hampir tutup, kami pun pulang. Di perjalanan pulang, saya berpikir, sebagai manusia, saya cenderung untuk berharap. Dalam konteks cinta misalnya, bila saya sudah mencintai seseorang 100%, maka saya berharap si orang itu akan membalas mencintai saya, juga dengan cinta yang 100% – sukur-sukur lebih..πŸ™‚ Dan, ketika harapan itu tak mewujud, saya pun jadi sebel, jadi kecewa, seperti teman saya tadi. . Kenapa? karena saya merasa telah merugi ketika melakukan transaksi cinta.

Ketika sepasang manusia sudah menikah, sudah menjadi suami dan istri, transaksi cinta kemudian mewujud ke dalam sebuah kontrak pernikahan. Kedua pihak sepakat untuk SALING mencintai dengan periode yang tak terbatas. Seumur hidup.

Tentu, ketika salah satu pihak lalai untuk mencintai, mendua atau selingkuh misalnya, pihak yang lain lagi-lagi akan merasa merugi, karena merasa dikhianati, merasa bahwa cinta dan kesetiaan yang diberikan tidak berbalas dengan sepadan.

Pun bila kedua pihak tidak pernah lalai untuk mencintai, bisa jadi, cinta yang saling diberikan oleh si suami dan si istri ini, muncul semata-mata karena kewajiban pernikahan semata. Menjadi cinta yang sifatnya kontraktual. Tak heran, tidak sedikit pasangan suami istri yang merasa ‘terjebak’ oleh institusi pernikahan.

Tentu, tidak menutup kemungkinan, cinta yang muncul dalam institusi pernikahan, adalah benar-benar tulus adanya.

Lalu saya teringat sebuah kalimat, yang kurang lebih bunyinya begini: tidak ada kasih yang lebih besar, dibandingkan kasih seorang sahabat yang rela memberikan nyawanya bagi sahabatnya..

Barangkali kalimat itu ada benarnya. Ketika cinta diberikan dengan rela mengorbankan nyawa, kepada seorang yang statusnya hanya sahabat, bisa dipastikan, cinta yang diberikan bukanlah sekedar cinta transaksional atau cinta kontraktual. Mungkin itu yang disebut sebagai cinta sejati.

1 comment so far

  1. jaka on

    Salam Kenal Untuk Semuanya.. Judulnya UNik bro,, haha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: