Setelah menikah / melahirkan : bekerja atau tidak?

Di awal pernikahan, banyak pasangan suami dan istri yang sama-sama bekerja. Setelah menikah, dan akhirnya punya anak, tidak sedikit pasangan yang akhirnya memutuskan untuk berbagi tugas.

Dalam pembagian tugas ini, kebanyakan, tidak selalu, para istrilah yang cenderung untuk berhenti bekerja dan lebih memfokuskan diri untuk mengurus rumah dan anak-anak.

Tentu, tidak sedikit pula pasangan yang keduanya tetap bekerja. Ataupun ada juga, walaupun tidak banyak, para suami yang bekerja di rumah, sementara istrinya terus berkarir.

 

Dalam sebuah kesempatan diskusi tentang mengelola keuangan rumah tangga, muncul beberapa keluhan yang datang dari para ibu. Para ibu ini  dalam kesehariannya berperan sebagai ibu rumah tangga, atau, istilah yang banyak dipakai sekarang: full time mom.

Ibu-ibu ini mengeluh  karena tidak lagi menghasilan pendapatan bagi keluarga. Mereka kemudian merasa tidak berkontribusi untuk ekonomi keluarganya.

Lebih lanjut, ada juga ibu yang khawatir untuk berhenti bekerja karena takut posisi tawarnya dalam keluarga menjadi melemah.

Kepada ibu-ibu itu, saya menyampaikan kurang lebih begini:

Kegiatan mengelola keuangan rumah tangga itu terdiri dari 2 hal penting : menghasilkan pendapatan dan mengatur pengeluaran.

Bagaikan 2 sisi mata uang, kedua hal ini sama pentingnya untuk mencapai kesejahteraan.

Keluarga yang pendapatannya cukup, dan pintar berhemat mengatur pengeluaran, niscaya akan lebih sejahtera dibanding keluarga yang pendapatannya besar, tapi boros dalam pengeluaran.

Dengan pemahaman ini, partisipasi/kontribusi dalam keuangan keluarga tidaklah bisa diukur hanya dari seberapa besar suami/istri menghasilkan pendapatan bagi keluarganya.

Kemampuan suami/istri untuk mengatur pengeluaran jelaslah menjadi faktor yang sangat penting.

Jadi, bagi anda yang tidak bekerja dan memutuskan untuk berkarir di rumah, tidak perlu berkecil hati karena tidak berkontribusi dalam menghasilkan pendapatan bagi keluarga.

Mengelola rumah tangga secara full time jelaslah bukan tugas yang ringan dan sembarangan. Juga, pendapatan yang sudah terkumpul pun harus diatur dengan cermat pengeluarannya, supaya keluarga bisa sejahtera.

Yang manapun kontribusi yang anda pilih untuk keluarga anda, pastikan untuk melakukannya dengan sebaik mungkin.

Selamat berkontribusi!

 

3 comments so far

  1. Hamid Anwar on

    Sebentar lagi saya punya anak, dan istri barangkali hendak resign dari kantornya.. terimakasih pencerahannya😀

  2. nina on

    Wah, Mas Indra, postingnya kok ngena banget. Sejak menikah dan pindah ke Balikpapan, baru tahun ini saya memutuskan untuk mulai berjualan online agar bisa memberikan kontribusi. Karena seringkali saya malah pusing sendiri melihat segala harga dan biaya pendidikan anak yang membumbung, dan rasanya kontribusi dalam mengatur keuangan keluarga saja terasa kurang cukup😦

    • indralogy on

      iya mbak, mmg mesti agak2 ‘akrobatik’ kalo mau survive di tengah harga2 mahal ini..😦

      gak cuma akrobatik nyari tambahan, tapi juga akrobatik ngatur yg keluar..

      tetap semangatttt! :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: