Profesionalisme ala Lusy Laksita

Kali ini saya ingin bercerita tentang Lusy Laksita, presenter, penyiar dan MC kondang di Jogjakarta.

Saya kenal dengan “Mama Lusy” (begitu beliau biasa dipanggil) sejak paruh kedua tahun 90-an, saat saya kuliah di Jogja.

foto diambil dari lusylaksita.com

foto diambil dari lusylaksita.com

Sebagai seorang penyiar terkenal, dengan warna suara dan gaya siaran yang khas, rasanya hampir tidak ada kanca muda jogja yang tidak mengenal beliau..

Setelah lulus kuliah, sayapun meninggalkan Jogja…

 

 

Saya menemukan kembali Mama Lusy ketika saya kuliah lagi di negri orang.

Ketika itu, saya rajin mendengarkan beliau siaran radio, sebagai obat kangen terhadap tanah air.

Kemudian, dengan adanya media sosial semacam twitter dan facebook, sayapun mulai cukup sering berinteraksi dengan Mama Lusy, melalui media sosial.

Kebetulan, ada beberapa teman dekat saya yang juga temannya Mama Lusy.

Kebetulan juga, kami sama-sama berzodiak Pisces dan bershio Kambing..🙂

 

Akhir 2014, saat liburan akhir tahun di Jogja, saya hadir di sebuah kelas yang diadakan oleh Akademi Berbagi (akber).

Waktu itu, topiknya tentang: bagaimana menjadi Master Ceremony (MC) yang baik.

Pengajarnya, Mama Lusy, lokasinya di sekolah yang beliau dirikan, Lusy Laksita Broadcasting School (LLBS) , di daerah Jetis, Jogja.

Itulah kali pertama saya melihat beliau secara live.

 

Penampilan Mama Lusy sore itu mengkonfirmasi ekspektasi saya tentang beliau. Sosok yang sangat kompeten dalam bidangnya, dengan jam terbang tinggi, dan tak canggung untuk berbagi.

Sayangnya, ketika acara usai, saya tidak sempat menyapa beliau. Beliau cukup sibuk melayani ‘penggemar’nya dan sayapun sudah ditunggu untuk sebuah acara lain.

Ada 1 hal yang saya ingat tentang beliau dari acara sore itu, sampai hari ini.

Acara Akademi Berbagi adalah acara gratisan. Pengajarnya tidak dibayar, organizernya sukarela, pesertanyapun orang-orang biasa, seperti saya misalnya.

Tapi, saya melihat sendiri, bagaimana Mama Lusy tetap tampil total dan profesional, untuk sebuah acara yang notabene adalah sebuah acara gratisan.

Beliau tetap tampil dengan “ndithing”. Busana, make-up, tata rambut yang beliau kenakan sama sekali tidak mengesankan bahwa beliau cuma akan berbicara di sebuah acara gratisan.

Buat saya, pesan beliau sore itu sangat jelas: menjadi profesional itu tak hanya ketika dibayar🙂

2 comments so far

  1. Lusy Laksita on

    *mrinding bacanya* … Terima Kasih yaaaaaa … Dan sayangnya sore itu Mama tidak tahu kalau ada peserta yang bernama Indra Soeharto … yang Bintang dan Shio-nya sama dengan Mama … Hih Hih Hih … Awas Ya … *sampai mama lihat berulang kali foto foto akber sore itu_yang mana ya mas InSoe* …

  2. April dan Akber | indralogy on

    […] Kali kedua, akhir taun lalu, saya ikut kelas Akber di jogja, ceritanya ada di sini. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: