7 tahun 17 Kali: Perjuangan Memenangkan Beasiswa

Lima tahun yang lalu, saya berkesempatan untuk kuliah di Manchester, Inggris, dengan beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris.

Seperti layaknya (kebanyakan) program master di Inggris, saya menyelesaikan kuliah saya dalam waktu satu tahun. Walaupun beasiswanya untuk “single status”, saya tetap mengajak serta istri dan anak saya – yang waktu itu baru saja berulang tahun yang pertama.

Tahun ajaran dimulai di pertengahan September. Dari tengah September sampai dengan tengah Januari, saya menempuh 4 mata kuliah.

Kemudian dari tengah Januari sampai dengan Mei, saya juga menempuh 4 mata kuliah.

Selanjutnya, di bulan Juni sampai dengan Agustus, saya menulis dan menyelesaikan disertasi.

Masa kuliah yang cuma setahun itu, sungguh berkebalikan dengan masa yang saya habiskan untuk (akhirnya) mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negri.

Kebetulan, semenjak lulus sarjana, latar belakang pekerjaan saya bukanlah dosen/PNS/peneliti/aktifis NGO atau profesi2 ‘beasiswa friendly’ lainnya..

Saya perlu waktu 7 tahun dengan setidaknya  17 aplikasi beasiswa, sebelum akhirnya saya memenangkan beasiswa Chevening.

Sejak saya mulai tertarik mencari beasiswa untuk sekolah lagi, setiap tahun selama 7 tahun berturut-turut, saya mengirimkan 2 sampai 3 aplikasi beasiswa.

Respons dari pemberi beasiswa beragam. 3 tahun pertama, yang selalu saya terima adalah surat penolakan. Di periode ini, bahkan saya tak pernah dinyatakan ‘lolos seleksi administrasi’ oleh pemberi beasiswa manapun yang saya lamar..

Memasuki tahun ke-4, mulai ada pemberi beasiswa yang mengundang saya untuk tes wawancara. Walaupun hasilnya masih sama: gagal.

Baru di tahun ke-7, saya akhirnya mendapatkan beasiswa Chevening. Sebagai catatan, di tahun ke-7 ini pulalah, saya sudah berencana untuk ‘pensiun’ sebagai pemburu beasiswa, saking seringnya saya mendapat penolakan..

Ada banyak hal yang saya pelajari selama 7 tahun dan 17 kali mencoba melamar beasiswa.

Catatan pertama dan terpenting: jangan menyerah.

Buat saya, sekolah di luar negeri sudah berubah dari ‘sekedar’ keinginan menjadi sebuah obsesi. Saya selalu berpikir bahwa sekolah di luar negeri bukan (hanya) soal mendapatkan gelar akademik, namun, yang jauh lebih penting dan seru, adalah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman hidup di tempat baru, dengan orang, lingkungan dan kebiasan baru.

Dan ternyata memang benar. Selama setahun bersekolah, bukan hanya ilmu akademik yang saya dapatkan, tapi segudang pengalaman hidup yang tak akan pernah habis diceritakan. Asyiknya, pengalaman ini bukan cuma untuk saya, tapi juga untuk istri dan anak saya.

Catatan kedua, dengan persaingan memenangkan beasiswa yang begitu ketat, semangat jangan menyerah saja rupanya tidaklah cukup. Diperlukan kreatifitas  untuk selalu memperbaharui strategi dan aplikasi lamaran beasiswa kita.

Contoh: Bila lamaran beasiswa mensyaratkan kita menulis esai, dan ternyata dengan esai yang kita tulis, kita belum lolos, jangan ragu untuk membaca ulang esai itu, meminta masukan dari orang-orang yang kita anggap mampu dan menulis kembali esai yang baru.

Contoh lain, pemberi beasiswa biasanya suka dengan pelamar yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Nah, bila anda merasa kurang punya banyak kegiatan kemasyarakatan untuk diceritakan, jangan ragu untuk segera ‘memperkaya CV’ anda dengan melibatkan diri di kegiatan-kegiatan tersebut.

Intinya, kirimkanlah aplikasi beasiswa yang “tak dapat ditolak” oleh si pemberi beasiswa.

Catatan ketiga: selalu komunikasikan rencana dan keinginan anda untuk memenangkan beasiswa dengan orang-orang terdekat anda. Bisa orang tua, pasangan, anak, sahabat dan tentu saja, dalam doa kepada Tuhan.

Selamat memenangkan beasiswa, dan bersiaplah untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman terbaik dalam hidup anda.

6 comments so far

  1. arigetas on

    Salam kenal Mas.. mantapppp berusaha 7 tahun dan goal Chevening. Urusan effort, saya kalah jauuh dai mas🙂

    • indralogy on

      Terimakasih mas, Mungkin itu semata2 karena saya orangnya ‘ngeyel’ aja mas.. :))

      Salam kenal juga!

  2. Juliastri Sayektiningsih on

    wuiiikkk..empat jempol pakde !

    • indralogy on

      Wehhh.. Jempole gedhi2.. :))

  3. nayarini on

    Wah mas Indra nduwe blog jebule, awit 2007 pisan..nuwun ijin follow nggih🙂

    • indralogy on

      Hihihi.. Rojer mbak! Ijin folbek njih.. :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: