Berawal dari Koran Selembar…

Seperti sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, akhirnya hari minggu lalu, saya bersama teman-teman OMK St. Theresia Balikpapan, berhasil menyelesaikan edisi pertama majalah Theresiana.

Majalahnya mungil, halamannya berukuran A5, dan relatif tipis, terdiri dari 24 halaman saja. Full Colour.

Kami mencetak majalah itu di Rajawali Digital, salah satu penyedia layanan cetak digital yang cukup terkemuka di Balikpapan.

Seperti laiknya penerbitan majalah/buletin/tabloid komunitas, tentu proses persiapan penerbitan dibumbui dengan berbagai drama..😀
Mulai dari kesulitan mengontak narasumber, aplikasi layout yang tiba2 rusak, biaya cetak yang lebih mahal dari asumsi awal, dan banyak lagi drama-drama yang lain..
Untungnya, drama-drama itu berhasil diselesaikan, tepat waktu.. :)))

Buat saya, hobi membuat majalah/buletin ini mulai saya kenal sejak saya SMA.
Waktu itu, saya mengikuti ekskul jurnalistik, yang diampu oleh seorang wartawan senior, almarhum Pak Marjuki.
Beliau jauh-jauh naik bus dari Jogja ke Muntilan setiap minggu, selama 2 jam, untuk membagi ilmu jurnalistik kepada kami.

Salah satu hal yang saya sangat ingat, beliau pernah menugasi kami untk membuat “koran selembar”.
Isinya boleh apa saja, yang penting, harus muat dalam satu muka kertas HVS/A4.

Sejak saat itulah, saya, sadar atau tidak sadar, tidak pernah jauh-jauh dari majalah/buletin dan aktifitas sejenisnya.

Masih di masa SMA, saya pernah membuat ‘koran selembar’ (walaupun bentuknya sudah lebih mirip buletin dengan 4-8 halaman) untuk saya tempel di papan depan kelas. Melalui media ini pulalah, saya pernah memprotes seorang pendamping (guru/pamong) di sekolah saya, yang waktu itu memaksa beberapa orang siswa (termasuk saya) untuk “merapikan” model rambut kami.

Di masa SMA ini pula, saya pernah ikut sedikit terlibat dalam penerbitan Majalah RODA, majalah sekolah kami saat itu.
Selanjutnya, ketika kuliah, saya juga sempat membidani (halah..), lahirnya majalah/buletin mahasiswa di jurusan saya.

Buat saya, proses membuat majalah/buletin itu seru.
Tak cuma seru, membuat majalah komunitas, dari yang saya alami, bisa melatih kebiasaan untuk menulis sekaligus belajar menyelesaikan drama-drama permasalahan yg muncul..😀
Dengan latihan menulis, tak hanya kemampuan menulis yang sedikit demi sedikit akan terasah, yang lebih seru, kemampuan untuk berfikir logis dan runtut juga pasti akan ikut terasah. Hal-hal itulah yang ingin saya coba tularkan ke teman-teman OMK St. Theresia Balikpapan.

Buat saya, belajar menulis, sama halnya dengan balajar berfikir logis dan runtut, adalah ‘lifetime learning process’, alias proses yang nggak pernah selesai dan harus terus dilatih.

Kembali ke majalah Theresiana tadi,

Kami mencetak 100 eksemplar, dan habis terjual dalam rentang waktu kurang dari 30 menit!😀

Buat saya, bagian yang paling membahagiakan adalah, melihat orang2 tak sabar membuka majalah itu, dan asik membacanya. Priceless!

1 comment so far

  1. kembangbakung on

    lihat donngngng… foto!
    jaman dulu juga ada media Majalah Dinding ya… keseruan produksi yang lain


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: