Bu Har, Saya dan Putri Salju

Saya pertama kali bertemu Bu Har, 13 tahun yang lalu. Saat saya mulai bekerja di Balikpapan.

Saya berkenalan dengan beliau, karena anak-anaknya adalah adik kelas saya di SMA dulu.

Sejak pertemuan pertama, saya merasa cocok. Dan sepertinya, beliaupun begitu.

Tak berapa lama setelah pertemuan itu, saya pindah ke rumah kontrakan di daerah VnW. Rumah kami hanya berjarak sekitar 100 meter.

Sejak saat itu, hampir setiap hari saya mampir ke rumah Bu Har.

Entah itu karena memang ada keperluan, atau sekedar ngobrol kesana-kemari saja.

Alamat KTP sayapun menggunakan alamat rumahnya.

Setiap kali kesana, pertanyaan Bu Har hampir selalu sama: “sudah makan lik?”

Variasi pertanyaan lainnya: “itu Ibu masak lik, makan dulu sana”.

Iya, Bu Har memanggil saya dengan sebutan “lik” atau kadang juga memanggil saya dengan “mas Indra” .

 

Bu Har jago sekali memasak. Seluruh masakannya cocok sekali dengan lidah saya. Mungkin karena kami sama-sama berasal dari Jawa Tengah.

Tak Cuma masakan berat, beliau juga pintar membuat kue. Kue andalannya adalah “kue putri salju”.

Ketika membuat kue ini, Bu Har selalu memakai mentega Wisjman. Rasanya? Jangan ditanya.

Saya belum pernah merasakan kue putri salju yang lebih enak dari kue putri salju buatan Bu Har.

Bu Har tau betul, saya sangat suka kue putri salju buatannya.

Sering, beliau sengaja membuat kue ini dalam jumlah agak banyak, supaya saya bisa puas makan kue buatannya ini.

Kami tak hanya cocok soal makanan. Soal ngobrolpun kami tak kalah cocok.

Sebagai sosok yang sudah puluhan tahun menjadi guru dan kepala sekolah di Balikpapan, pengalaman, pola pikir dan tentu saja jaringan pertemanan Bu Har sangatlah luas.

Kami sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrolkan berbagai hal. Seru mendengarkan cerita-cerita beliau.

Kala itu, Bu Har sering mengeluhkan asam urat yang membuat kakinya sakit.

 

Tahun 2005, ketika Erlin mendapatkan pekerjaan di Balikpapan, Bu Har jugalah yang banyak membantu.

Entah apa yang beliau lakukan, sampai akhirnya Erlin diperbolehkan tinggal sementara di salah satu asrama milik para Suster.

 

Tahun 2007, Saya dan Erlin sepakat untuk meminta Bu Har sebagai saksi pernikahan kami di Jogja.

Beliau hadir mengikuti seluruh rangkaian acara, dari acara malam midodareni, sampai acara ngundhuh mantu di Mertoyudan.

 

Tahun 2008, ketika Erlin hamil, Bu Har juga yang mengadakan acara syukuran 7 bulanan di halaman rumahnya.

Tak lama setelah acara itu, kami pindah dari Balikpapan. Saya bekerja di Jakarta, Erlin kembali ke Jogja untuk melahirkan anak pertama kami.

 

Komunikasi kami tetap terjaga dengan beliau. Ketika sesekali saya bertugas ke Balikpapan, saya acap menyempatkan diri untuk mampir ke rumah beliau.

Erlin pernah mengirimkan beberapa foto Naia, anak pertama kami. Dan Saya kaget, melihat foto-foto Naia yang terpasang di ruang tamu rumahnya.

Tahun 2014, saya kembali pindah ke Balikpapan.

Sebelum memutuskan untuk tinggal di rumah yang kami tempati sekarang, saya minta saran dan rekomendasi dari Bu Har.

Banyak perkakas rumah tangga di rumah kami, yang kami dapat dari Bu Har.

Beliau tidak berubah, tetap jadi sosok Ibu dan Mbah Ndut (begitu cucu-cucunya memanggil) yang penuh perhatian.

 

Memang, sudah beberapa tahun ini, Kondisi kesehatan Bu Har tidak lagi sebaik dulu. Beliau bahkan harus menjalani cuci darah secara rutin.

Badannya tak lagi berisi seperti dulu. Untuk berjalanpun, beliau harus dibantu dengan tongkat penyangga.

Bu Har memang tak segesit dulu, tapi satu hal yang tak berubah. Semangatnya.

 

Bu Har tetap saja antusias berbagi cerita tentang banyak hal.

Ketika suatu hari sepulang gereja, Bu Har menumpang mobil kami untuk pulang ke rumah, beliau bercerita kalau baru saja berjumpa dengan teman-teman lamanya.

Mereka bernostalgia semasa masih aktif di gerakan Pramuka.

 

Akhir November, saya bertemu dengan bu Har di acara syukuran pembaptisan cucunya.

Kami masih ngobrol. Saya tidak menyangka, itu adalah obrolan saya yang terakhir dengan Bu Har.

 

Senin lalu, ketika istirahat siang, Erlin mengabarkan bahwa Bu Har kritis.

Kamipun menuju ke rumah sakit untuk menengok beliau.

 

Sore harinya, seorang teman di kantor yang juga kenal dengan Bu Har, menanyakan tentang sakitnya Bu Har.

Waktu itu saya bilang kepada teman saya “kondisinya memang tidak baik, tapi beliau pernah mengalami hal ini sebelumnya, semoga beliau kembali pulih”.

 

Tapi rupanya Tuhan berencana lain. Kurang dari sejam kemudian, saya mendapatkan kabar, bahwa Bu Har sudah berpulang.

 

 

Banyak pelayat yang datang di gereja Prapatan, tempat jenazah bu Har disemayamkan.

Saya yakin, mereka menyimpan banyak pengalaman indah dengan bu Har, seperti yang saya alami.

 

Selamat Jalan Bu Har. Beristirahatlah dalam damai.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: