It Takes Two To Tango

Awal bulan ini, Harian Tribun Kaltim memuat tulisan saya. Karena keterbatasan tempat, tidak seluruh bagian tulisan bisa termuat. Silakan simak posting berikut ini, untuk versi lengkapnya..

It takes two to tango

Riset Akademis dan Kebijakan Publik: It Takes Two to Tango

Sebelum sebuah kebijakan publik (public policy) diberlakukan untuk masyarakat, idealnya, aturan/kebijakan publik harus didahului oleh kajian/riset akademis yang memadai. Kalangan perguruan tinggi, sebagai salah satu institusi penghasil riset dan kajian akademis, selayaknya selalu menjadi counterpart bagi pemerintah dan legislatif dalam proses pembuatan kebijakan publik.

Faktanya, pada berbagai kesempatan, masyarakat sering mengeluhkan rendahnya kualitas kebijakan publik yang dihasilkan. Sebagai contoh, ketika merumuskan langkah-langkah untuk menangani bencana kabut asap tahun lalu, pemerintah  banyak mendapat kritik dari kalangan perguruan tinggi. Menurut beberapa akademisi, penggunaan bom air sebagai salah satu solusi  yang ditempuh oleh pemerintah, tidak akan menghentikan kebakaran lahan, tetapi justru memperbesar kebakaran.  Polemik semacam ini menjadi salah satu contoh kurang mesranya hubungan antara akademisi dan pihak pembuat kebijakan publik.

Diskoneksi antara riset akademis dan kebijakan publik bukanlah hal yang baru. Dalam kesehariannya, baik kalangan perguruan tinggi maupun para pembuat kebijakan cenderung tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Di satu sisi, para dosen dan peneliti sibuk melakukan kajian dan penelitian untuk dimuat di jurnal atau publikasi ilmiah. Sementara di sisi lain, para pembuat kebijakan mungkin terlalu sibuk menyerap aspirasi rakyat dan memformulasikan berbagai aturan dan kebijakan. Dalam proses pembuatan kebijakan publik, kedua pihak yang mestinya saling bekerjasama ini justru bekerja dalam dua dunia yang (seolah-olah) berbeda dan tidak saling terhubung.

Salah siapa?

Pihak pembuat kebijakan kerap mengeluhkan sulitnya menemukan hasil riset akademis yang memadai untuk dijadikan sebagai rujukan dalam pembuatan kebijakan publik. Para policy maker ini pun menuntut kalangan akademisi untuk melakukan riset yang lebih membumi dan aplikatif, serta lebih proaktif dalam menjajakan hasil riset mereka.

Keluhan kalangan pembuat kebijakan publik ini diamini oleh Gatot Soepriyanto, seorang dosen yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Australia. Gatot (2016) menunjukkan berbagai data tentang masih rendahnya kuantitas dan kualitas riset akademis perguruan tinggi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Tak cuma persoalan kuantitas dan kualitas, ditengarai juga adanya ketidakcocokan (mismatch) antara riset untuk kepentingan publikasi ilmiah dengan  riset yang dilakukan untuk menjawab persoalan publik.  Kuantitas, kualitas dan mismatch inilah yang pada akhirnya membuat para peneliti kesulitan memasarkan hasil penelitiannya untuk kepentingan publik dan di lain pihak, tidak mudah bagi para pembuat kebijakan untuk mendapatkan hasil penelitian sebagai acuan pembuatan kebijakan publik.

Tentu saja, tidak semua masalah bisa ditimpakan kepada kalangan akademisi saja. Ibaratnya membangun jembatan, sederet hal yang harus dilakukan oleh para akademisi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas riset akademis barulah separuh jalan.  Tanpa adanya upaya balasan dari pihak pembuat kebijakan, jembatan yang dicoba dirintis oleh kalangan akademisi ini bisa jadi akan berakhir sia-sia tanpa membawa hasil yang diinginkan.

Research-Based Policy

Penelitian oleh Oliver et al. (2014) memaparkan hal-hal yang mendukung dan juga hambatan dalam penggunaan hasil riset untuk pembuatan kebijakan. Dalam penelitian ini, dilakukan reviu terhadap 145 publikasian yang memuat tantangan dan hal-hal yang mendukung penggunaan hasil riset dalam pembuatan kebijakan di 59 negara – 33 diantaranya adalah negara-negara berkembang.

Dalam penelitian tersebut, dipaparkan keluhan-keluhan dari para pembuat kebijakan tentang kesulitan mereka untuk mendapatkan hasil riset akademis yang reliabel dan relevan bagi pembuatan kebijakan publik. Di sisi lain, kalangan akademisi acapkali berpendapat bahwa para pembuat kebijakanlah yang tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk membaca dan menggunakan hasil riset akademis.

Walaupun terlihat saling menyalahkan, menariknya, penelitian ini juga memaparkan kesamaan pendapat dari kedua belah pihak, bahwa kolaborasi dan hubungan yang erat antara akademisi dengan pembuat kebijakan adalah faktor terpenting yang memungkinkan penggunaaan hasil riset akademis dalam proses pembuatan kebijakan.

Sebuah kolaborasi mensyaratkan adanya kesamaan tujuan dan hubungan saling menghargai antara pihak-pihak yang bekerjasama. Untuk mencapai hal ini, kalangan akademisi harus menahan diri untuk tidak terlalu asyik memperumit hal-hal yang sebenarnya bisa disederhanakan. Bukan rahasia lagi, para akademisi cenderung ingin menunjukkan kejumawaannya dengan menggunakan bahasa yang terlalu canggih dan sulit dimengerti ketika menuliskan hasil penelitiannya di publikasi-publikasi ilmiah terkemuka. Sebaliknya, para pembuat kebijakan juga harus mau meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan dan semakin membuka diri untuk bekerjasama memanfaatkan hasil-hasil penelitian akademis dalam memformulasikan kebijakan-kebijakan publik.

Terciptanya kolaborasi antara pembuat kebijakan dan akademisi diharapkan akan membumikan hasil penelitian akademis dan memastikan bahwa hasil-hasil penelitian ini tidak hanya berhenti di tataran teori, namun juga berguna bagi kemaslahatan masyarakat. Dengan kolaborasi pula, para pembuat kebijakan boleh berbangga karena mereka akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang berbasisriset (research-based) dan bukan lagi kebijakan-kebijakan yang berdasarkan perasaan  (feeling-based) ataupun kebijakan-kebijakan yang sekedar mengikuti selera penguasa dan kepentingan segelintir orang/kelompok saja.

1 comment so far

  1. kembangbakung on

    ih setuju banget.
    ini juga berarti memberdayakan akademi menjadi rekan pembuat keputusan, ga cuma melulu misi pendidikan dan pembekalan SDM.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: