Mutia, Cita-cita dan Kotak Gabus

Foto MutiaHari itu adalah pekan ketiga saya mengajar paruh waktu di kampus ini.

Hampir jam 9 malam, kelas baru saja usai, mahasiswa lain sudah pulang.

Saya masih di kelas bersama seorang mahasiswi.

Namanya Mutia, usianya 20an tahun.

Rambutnya dipotong pendek, penampilannya agak tomboy tapi tetap trendi sesuai dengan usianya.

 

Kami masih mendiskusikan beberapa materi yang baru saja kami bahas di kelas.

Usai berdiskusi, kamipun keluar dari kelas, sembari bercakap-cakap menuju lift.

Awalnya saya tak terlalu memperhatikan, tapi tangannya terlihat memegang sebuah kotak gabus berukuran cukup besar.

“Bawa apa itu Mut?” tanya saya penasaran. “Oh, ini saya jualan Pak”, sahutnya.

Saya kaget, tidak menyangka dengan jawaban yang baru saya dengar.

“Oya? Jualan apa?” lanjut saya. “Jualan minuman dingin Pak, teh kotak”.

Mutia menjawab sambil membuka tutup kotak gabus yang dibawanya.

Wajahnya berseri, tidak ada sedikitpun raut malu di sana.

 

Rupanya kotak gabus yang ditentengnya itu berisi dagangan: beberapa kotak minuman kemasan. Disana ada juga bongkahan es batu untuk menjaga agar minuman tetap dingin.

Kami berpisah. Saya menuju tempat parkir, Mutia ke arah sebaliknya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya tidak berhenti memikirkan apa yang baru saja saya dengar dari Mutia.

 

Benar, malam itu saya baru saja belajar dari seorang perempuan muda.

Perempuan muda yang barangkali “bukan siapa-siapa”.

“Hanya” perempuan muda yang punya semangat besar untuk memperbaiki kehidupannya.

Perempuan muda yang di pagi sampai sore hari bekerja kantoran untuk membayar biaya kuliahnya.

Perempuan muda yang tanpa malu dan segan, menambah penghasilan dengan berjualan layaknya pengasong di sela waktu kuliah malamnya.

 

Saya belajar dari Mutia.

Yang tetap semangat berjualan, walaupun keuntungan berjualan selama beberapa haripun barangkali tidak akan cukup untuk membeli secangkir espresso di gerai kopi terkemuka.

Malam itu, saya belajar dari Mutia, bahwa keterbatasan, apapun bentuknya, harus membuat kita terus bergerak dan berupaya, bukannya malah berhenti dan menyerah tanpa daya.

Terimakasih Mutia.

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: