Tanakita, Naura dan Kebetulan yang Menyenangkan

Melanjutkan cerita di sini, kali ini saya akan bercerita mengenai salah satu tempat tujuan liburan kami : Tanakita.

Kami sudah meniatkan diri untuk liburan di Tanakita sejak awal tahun 2017.

Pertimbangannya, selain karena belum pernah ke sana sekeluarga, kami juga ingin liburan yang agak berbeda, mengingat kalau berlibur di Jakarta kami akan cenderung melakukan mall hopping semata.. 🙂

Oiya, bagi yang belum tau, Tanakita adalah sebuah camp site di daerah  taman nasional Gede-Pangrango, menjelang Sukabumi. Di sana, ditawarkan pengalaman untuk berkemah (beberapa menyebutnya glamping – glamourous camping).

Mari kita simak.

 

Reservasi

Saya mengkontak Tanakita melalui email, alamatnya bisa dicari di: http://www.tanakitacamp.com.

Saya menanyakan apakah kami bisa bisa menginap di tanggal 20 – 21 juni.

Ternyata, kami diberi kabar, kalau Tanakita akan tutup untuk libur lebaran, dari tanggal 19 juni sampai dengan 2 juli.

Kami pun segera mengubah itinerary, dan membooking untuk tanggal 18-19 juni, karena kami baru tiba di Jakarta di tanggal 17 Juni.

Harga per malam adalah 550 ribu per orang.

Satu tenda bisa diisi 4 orang, pas dengan jumlah anggota keluarga kami.

Harga itu juga sudah termasuk 3 kali makan, snack, dan ditemani trekking oleh petugas di sana.

Saya juga menambah 200ribu untuk antar jemput dari stasiun kereta api Cisaat, menuju lokasi kemping.

Untuk mengkonfirmasi reservasi, saya membayar DP sebesar 40% dari total biaya. Sisanya, dibayarkan di lokasi.

Oiya, di awal Juni, saya juga membeli tiket pp kereta api Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi. Harganya 50ribu per orang untuk kelas eksekutif atau 25 ribu per orang untuk kelas ekonomi.

Pastikan membeli tiket jauh2 hari, karena jalur ini cukup ramai, dan hanya ada 3 kali trip per hari.

 

Hari H.

Hari Minggu pagi, sekitar jam 19 Juni, Kami berangkat dari Stasiun Tebet, menggunakan KRL menuju Bogor.

Karena Minggu, kereta relatif tak terlalu penuh.

Kami membeli tiket sekali jalan/single tiket atau disebut sebagai THB (Tiket Harian Berjaminan).

Harga tiketnya 5ribu per orang, dengan jaminan 10 ribu per kartu.

Setiba di Bogor, saya segera mencairkan jaminan dan mengembalikan kartu.

Dari Stasiun Bogor, kami menyebrang melalui jembatan penyeberangan, untuk mencari stasiun Bogor Paledang.

Dari stasiun Bogor Paledang inilah, kereta Pangrango ke Sukabumi akan diberangkatkan.

Sembari menunggu keberangkatan, kami menunggu di gerai ayam goreng terkenal, yang ada di dekat stasiun.

Stasiun Bogor Paledang ini kecil dan tidak ada penanda yang terlihat dari pinggir jalan. Silakan bertanya supaya tidak tersesat…

 

Kereta berangkat sekitar jam 13. Ada lebih dari 10 stasiun yang dilewati. Jam 15 an, kami tiba di stasiun Cisaat, satu stasiun sebelum stasiun Sukabumi.

Keluar dari stasiun, kami sudah dijemput oleh sebuah angkot berwarna merah, yang akan membawa kami ke camp site.

Perjalanan dari stasiun ke camp site sekitar 40 menit dengan jalanan yang beraspal namun sedikit menanjak.

 

Kebetulan yang sungguh menyenangkan

Sesampai di lokasi, kami melihat banyak orang berlalu lalang.

Rupanya benar, menurut pak sopir angkot dan pak petugas di Tanakita, hari itu adalah hari terakhir shooting film yang dibintangi oleh Naura (penyanyi cilik yang sedang naik daun, anak dari Nola Be3). Menurut info dari beliau, hari itu Naura masih ada di lokasi shooting.

Naia, anak sulung saya, mulai deg2an. Sebelum liburan, Naia sempat menyampaikan ingin ketemu Naura pas liburan di Jakarta. Sebelum liburan itupun, Saya beberapa kali menanyakan ke Naia, “emang kalau kamu ketemu Naura, kamu mau ngapain rencananya?”.. Naia tidak menjawab, hanya senyum-senyum saja.

Naia memang penggemar berat Naura, dan juga Neona adiknya. Naia dan Vidya, adiknya,  rajin nonton vlog-vlog yang dibuat oleh Naura dan Neona melalui youtube.

Kami juga mengkoleksi 2 CD albumnya, dan hampir selalu memutar lagu-lagunya di mobil.

Memasuki area kemping, ternyata memang shooting masih berlangsung!

Dannn.. taraaa! Naura, Neona, Nola dkk juga masih ada di sana..

Sungguh ini kejutan yang menyenangkan buat kami, terutama buat Naia.

Tanpa rencana, Naia mendapat hadiah ketemu Naura.

Barangkali ini cara Tuhan memberi kado setelah Naia setahun belajar terus di sekolah dan di rumah.. 😉

 

Oiya, rupanya, hari itu Naura juga berulang tahun.

Hari itu mereka syukuran berakhirnya shooting di Tanakita, sekaligus merayakan ulang tahun Naura bersama anak-anak Yatim di sekitar lokasi shooting.

Pagi harinya, rupanya rombongan Naura sudah kembali ke Jakarta.

Kami berjalan-jalan ke danau situ gunung, sekitar 20 menit dari camp-site Tanakita

Di sana kami  naik rakit mengelilingi danau.

Sesudahnya, kami menghabiskan waktu di Rumamera,  camp site yang bersebelahan dengan Tanakita, sembari menunggu angkot menjemput kami ke stasiun.

Bagi kami, tak cuma keseruan di tanakita, kunjungan kali ini pasti nggak akan mudah dilupakan..

 

Sampai hari inipun saya masih sering tertegun mengingat kejutan yang kami alami di Tanakita ini.

Mungkin benar orang bijak yang berkata:  Be careful what you wish for,  you’ll probably get it…

Jadi, marilah berharap, kita tak akan pernah menduga, kapan harapan itu akan terjawab…

 

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: